Harga Cetak Rekor, Bisnis Emas Tak Pernah Tekor


BALIKPAPAN, Beruangmadunews.com – Transaksi di pusat jual beli perhiasan Pasar Klandasan Balikpapan cukup ramai. Belasan konter penjual emas dan perhiasan tetap sibuk melayani pembeli. Seperti yang terlihat di Toko Emas Yunior Harmonis.

Gerai yang sudah berdiri belasan tahun ini menjadi salah satu tujuan transaksi. Baik yang mau membeli, menjual, atau sekadar tukar tambah.  Pemilik toko, Norma, mengatakan, kenaikan harga emas tersebut tak memengaruhi jumlah transaksi.

“Memang (jumlah pembeli) sempat turun saat awal-awal COVID-19, tetapi sekarang mulai naik lagi,” kata perempuan 35 tahun itu. Selain sebagai perhiasan, pembeli emas biasanya juga punya tujuan investasi.

Transaksi yang kembali meningkat tentu saja berpengaruh terhadap pendapatan pemilik usaha. Pemilik toko tetap untung dari selisih harga beli dengan harga yang berlaku saat itu. Begitu juga keuntungan dari pembelian, yang biasanya dipatok lebih mahal dari harga pasaran.

Keuntungan lain dari bisnis ini datang dari warga yang ingin tukar tambah. “Cukup banyak yang tukar tambah dengan model baru atau, tambah berat. Untuk menambah investasi,” kata Norma.   Pembeli perhiasan di toko ini, kata Norma, rata-rata mengincar gelang dan kalung dengan berat 5 gram ke atas.

Menurutnya, kenaikan harga emas perhiasan terjadi dalam dua hari terakhir. Dari sebelumnya Rp 730.000 sampai Rp750.000 per gram emas kadar 70% atau 18 karat.

Norma mengatakan pada awal pandemi COVID-19 banyak masyarakat yang menjual emasnya. Itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Lalu tahun ajaran baru, yang menyebabkan masyarakat memenuhi kebutuhan sekolah.

“Tetapi sejak masa relaksasi aktivitas sosial. Minat pembeli kembali,” tandasnya. Dalam satu hari berdasarkan catatannya ada 20 pengunjung untuk bertransaksi.

Hal senada diungkapkan pemilik toko emas, di Jalan Panglima Batur Samarinda. Transaksi jual beli emas saat ini sedikit membaik dibandingkan saat awal pandemi.

“Kondisinya sekarang orang lebih banyak jual emas dari pada beli. Mungkin karena faktor kebutuhan juga,” ungkap Achuan, salah satu pemilik toko emas.

Ia menyebut, beberapa tahun terakhir, pasar emas di Samarinda memang relatif normal. Normal, yang ia maksud berarti tidak ada peningkatan yang signifikan.  “Biasa saja,” tambahnya.

Ia menduga masyarakat saat ini banyak yang membutuhkan dana cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga jual emas, menjadi salah satu alternatif.

Achuan menjual emas perhiasan kadar 83,3 persen atau 20 karat dengan harga Rp 805 ribu per gram. Sementara harga emas batangan murni yang dikeluarkan oleh PT Aneka Tambang  atau Antam seharga Rp 982 ribu per gram.

Kondisi serupa dikatakan pemilik Toko Emas Bahagia di Jalan  KHM Tumenggung. “Penurunan banyak. Di atas 50 persen.  Penjualan tidak tentu,” ungkap Sri, salah satu pemilik toko emas yang telah berdiri sejak tahun 1967 ini.

Meski begitu, Sri bilang masih ada transaksi. Dalam sehari, rerata  penjualan emas di tokonya sekitar 10 transaksi per hari. Sedangkan konsumen yang menjual emas lebih banyak. “Kebutuhan orang kan banyak, bayar sekolah , bayar buku, kasian kalau kita gak terima,” ungkap Sri.

Kesempatan Ambil Untung

Kenaikan harga logam mulia menjadi kesempatan emas bagi investor seperti Suriansyah. Warga Samarinda itu merealisasikan keuntungan dengan menjual barang investasinya yang dibeli tiga tahun lalu.

Emas batangan yang memiliki kadar 99,9 persen dengan berat 100 gram dibeli Suriansyah saat harganya Rp 560 ribu per gram. Kemarin, Suriansyah menjualnya dengan harga Rp 860 ribu per gram atau senilai Rp 86 juta.

Artinya dalam tiga tahun saja, Suriansyah mengantongi keuntungan 30 juta. “Saya jual untuk kebutuhan modal usaha,” kata pria yang menyukai investasi logam mulia.

Strategi serupa juga diambil Riani, warga Balikpapan.  “Mumpung lagi naik harganya, saya jual saja emasnya,” kata dia. Enam tahun lalu, Santi membeli perhiasan seharga Rp 385.000 per gram. Kemarin, dia bisa menjual Rp 700 ribu lebih. “Karena lagi butuh, saya jual perhiasan,” ujar Riani.

Sedangkan konsumen lainnya memilih untuk membeli sebagai investasi. Menurut Santi, harga emas lagi naik tapi bisa saja mengalami kenaikan lagi. “Saya beli untuk investasi, tukar tambah gramnya. Menabung sedikit-dikit,” kata dia.

Logam Mulia untuk Investasi

Dibandingkan perhiasan, orang membeli logam mulia memang untuk investasi. Pedagang logam mulia di Balikpapan, Saiful (30) mengatakan peminat logam mulia cukup banyak.

“Mereka biasanya sudah memahami tujuan membeli logam mulai. Ya untuk investasi.  Menjaga aset,” katanya. Sejak menggeluti logam mulia, Saiful berani memastikan peminat investasi cara ini terus meningkat.

Dua tahun terakhir, peminat emas batangan cukup tinggi. Sejak Antam masih menjual logam mulia di level Rp 600.000 per gram. Kemudian naik Rp 700.000 dan menjadi Rp 800.000 per gram. “Bahkan di level Rp 900.000 per gram, peminatnya tetap ada,” beber Saiful yang tak ingin disebut nama tokonya.

Selama pandemi kata dia, jumlah konsumen pembeli dan menjual LM hampir sama. “Selama pandemi sebanding saja. Jual tidak begitu banyak, beli lebih banyak. Yang beli minimal 5 gram,” sebutnya.

Sementara saat harga sedang tinggi, sebagian masyarakat memilih menjual emasnya untuk memperoleh uang tambahan. Itu dilakukan untuk menambah modal usahanya. “Mumpung lagi naik harganya, saya jual saja emasnya. Saat beli enam tahun lalu, sebesar Rp 385.000 per gram. Karena lagi butuh saya jual perhiasan,” ujar Riani.

Sedangkan konsumen lainnya memilih untuk membeli sebagai investasi. Menurut Santi, harga emas lagi naik tapi bisa saja mengalami kenaikan lagi. “Saya beli untuk investasi, tukar tambah gramnya. Menabung sedikit-dikit,” pungkas dia.