"BERUANGMADU NEWS" Memberikan Informasi Terkini Terdepan dan Terpercaya

Terbongkar! Ini Dia Motif Maria Pauline Lumowa Pembobol Bank BNI Senilai Rp 1,7 Triliun


JAKARTA, Beruangmadunews.com - Menkumham Yasonna Laoly mengatakan, tersangka pembobolan Bank BNI senilai Rp 1,7 Triliun, Maria Pauline Lumowa, dibawa Bareskrim Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Yasonna mengatakan, penyidik akan menelusuri harta Maria Pauline Lumowa terkait pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

Sebelumnya, pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

“Motifnya mau memperkaya diri sendiri, itu sudah pasti,” tegas Yasonna di Bandara Soekarno Hatta, Kamis (9/7/2020).

Politikus PDIP itu melanjutkan, penyidik juga akan melakukan pemblokiran terhadap aset-aset milik. Maria Pauline Lumowa baik yang di dalam negeri maupun luar negeri.

“Kita akan freeze dan blokir akunnya. Kita upayakan setelah ada proses hukum di Bareskrim, baru kita bergerak,” tutup Yasonna.

Sekadar diketahui, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Namun, kedua permintaan itu direspons dengan penolakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang malah memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

Share this article :
 
Copyright © 2017. Beruangmadu News - All Rights Reserved