"BERUANGMADU NEWS" Memberikan Informasi Terkini Terdepan dan Terpercaya

Sama-sama Berwarna Merah Putih, Ini Beda Bendera Indonesia dan Monako, Siapa Duluan, Ini Dia Sejarahnya


BERUANGMADUNEWS.COM - Sama-sama berwarna merah putih, ini beda bendera Indonesia dan Monako, siapa duluan, begini sejarahnya. 

Hari ini 17 Agustus tepat perayaan HUT Kemerdekaan RI, biasanya peringatan Kemerdekaan RI disemarakkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih.

Bukan hanya Indonesia, ternyata warna bendera Monako dan Indonesia sama-sama merah putih, ini perbedaannya, siapa duluan, ini sejarah bendera Merah Putih. 

Bagaimana penjelasan terkait kemiripan Bendera Merah Putih milik Monako dengan milik Indonesia, adakah perbedaannya?

Dosen Sejarah Ketatanegaraan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, Tundjung W. Sutirto, menegaskan Bendera Merah Putih milik Indonesia dengan Monako mirip, tapi berbeda.

"Setahu saya dua Bendera merah putih itu punya sejarah yang panjang.

Dulu warna merah putih memang diambil dari simbol-simbol kenegaraan masing-masing," ujar Tundjung saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (15/8/2020).

Dia menjelaskan, Bendera Monako diambil dari lambang negara Monako, yang ada bentuk pola wajik berwarna merah putih.

Lambang negara Monako diresmikan pada 1297.

Akan tetapi, menurutnya, inspirasi Bendera Indonesia lebih tua 5 tahun.

Sebab, Bendera Merah Putih milik Indonesia terinspirasi dari Bendera Kerajaan Majapahit, yang disebut Bendera Gula Klapa.

Merujuk pada Prasasti Butak, Bendera Gula Klapa dikibarkan pertama kali pada 1292.

"Jadi warna merah putih di Bendera Gula Klapa itu lima tahun lebih tua daripada Bendera Monako," ungkapnya.


Beda ukuran

Bendera Merah Putih milik Indonesia juga memiliki perbedaan dimensi dengan Bendera Monako.

Sang Merah Putih RI ukurannya 2:3, sedangkan Monako dimensinya 4:5.

"Warna merah putih semakin diperkuat sebagai lambang diplomasi internasional agar semakin unggul daripada merah putihnya Monako," katanya.

Aturan penggunaan bendera Merah Putih

Sementara itu, dilansir Encyclopedia Britannica, warna Bendera merah putih sudah digunakan sejak zaman kerajaan Majapahit sejak abad ke-13 hingga 16.

Pada beberapa perang di Aceh, para pejuang juga menggunakan Bendera perang dengan warna merah putih.

Kemudian di awal abad ke-20, di bawah kekuasaan Belanda, para pelajar dan kaum nasionalis menggunakan Bendera yang dinamakan Sang merah putih.

Setelah Perang Dunia II dan Indonesia merdeka, Bendera Merah Putih mulai digunakan sebagai Bendera nasional.

Bendera Sang Saka Merah Putih pertama kali dikibarkan di Indonesia pada 17 Agustus 1945, saat proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bendera Merah Putih ini mempunyai makna khusus, merah berarti berani dan putih berarti suci.

Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia.

Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan.

           Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati.

Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Detik-detik Proklamasi dijahit Fatmawati.

"Pada waktu itu tidak mudah untuk mendapatkan kain merah dan putih di luar," tulis Chaerul Basri dalam artikelnya "Merah Putih, Ibu Fatmawati, dan Gedung Proklamasi" yang dimuat di Harian Kompas, 16 Agustus 2001.

"Barang-barang eks impor semuanya berada di tangan Jepang, dan kalau pun ada di luar, untuk mendapatkannya harus dengan berbisik-bisik," tulisnya.

Berkat bantuan Shimizu, orang yang ditunjuk oleh Pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah dan putih.

Shimizu mengusahakannya lewat seorang pembesar Jepang, yang mengepalai gudang di Pintu Air di depan eks Bioskop Capitol.

Bendera itulah yang berkibar di Pegangsaan Timur saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

"Ibu Fatmawati menjelaskan kepada Shimizu bahwa bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Gedung Pegangsaan Timur kainnya berasal dari Shimizu.

Dan satu-satunya kain Merah Putih yang diberikan Shimizu kepada Ibu Fatmawati adalah bendera yang berasal dari Gedung Pintu Air itu," tulis Chaerul.

Bondan Winarno dalam "Berkibarlah Benderaku, Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka" (2003), menuliskan, Fatmawati menghabiskan waktunya untuk menjahit bendera itu dalam kondisi fisik yang cukup rentan.

Pasalnya, Fatmawati saat itu sedang hamil tua dan sudah waktunya untuk melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra.

Tak jarang, ia menitikkan air mata kala menjahit bendera itu.

"Berulangkali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu," kata Fatmawati dalam buku itu.

"Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah putih.

Saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja.

Sebab dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit," sambungnya.


(Sumber : Kompas.com)

Share this article :
 
Copyright © 2017. Beruangmadu News - All Rights Reserved