Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Baru Covid-19 yang Mampu Sebabkan Kematian Mendadak Bila Tak Segera Ditangani


BERUANGMADUNEWS.COM - Gejala baru virus Covid-19 disebut mampu akibatkan kematian secara mendadak. 

Hal ini terjadi di daerah Banyumas. 

Menurut penuturan Bupati Banyumas Achmad Husein 3 pasien covid-19 di Banyumas menunjukkan gejala baru tersebut.

Gejala ini disebut happy hypoxia yang tidak memiliki gejala umum pasien corona.

"Orangnya kelihatannya gembira-gembira saja, enggak ada batuk, pilek, panas, tetapi saturasi oksigen yang ada di dalam darah ini lama-lama turun," ujar Husein dilansir dari Kompas.com, Rabu, (19/08).

Ternyata, kasus yang sama tidak hanya terjadi di Banyumas saja, akan tetapi juga terjadi pada pasien di berbagai negara.

Dilansir dari Medicine.net, Hypoxia adalah salah satu kondisi dimana suplai oksigen sangat rendah dan cenderung kurang untuk tubuh.

Happy Hypoxia sendiri bisa mengakibatkan kehilangan kesadaran hingga kematian pada penderita Covid-19.

Jika oksigen dalam darah rendah atau berkurang, seseorang sangat mungkin mengalami sesak napas.

Hal inilah yang bisa mengancam nyawa khususnya untuk pasien Covid-19.

Ada berbagai gejala yang ditunjukkan dari penderita Covid-19 yang mengalami kondisi Happy Hypoxia, mulai dari yang akut hingga kronis.

Selain itu, intensitas gejalanya juga sangat bervariasi, dari yang ringan hingga berat.

Meski demikian, secara umum gejala Happy Hypoxia yang seringkali terjadi adalah sesak napas, detak jantung cepat dan pernapasan yang cepat.

Gejala lainnya meliputi bibir atau bantalan kuku membiru, pernapasan terganggu seperti asma, dan bentuk hemoglobin yang tidak normal.

Kemudian, Happy Hypoxia yang parah bahkan bisa menimbulkan gejala seperti kesulitan berkomunikasi, kebingungan, hingga koma dan kematian.

Kondisi ini bisa saja dialami oleh semua umur, dari anak-anak hingga lansia.

Kebanyakan, anak-anak mengalami gejala seperti pernapasan melalui mulut dan air liur yang banyak.

Penyebab kondisi Happy Hypoxia sendiri berasal dari lingkungan dan jaringan pada tubuh.

Masalah pada paru-paru seperti pasien Covid-19 juga bisa menjadi penyebab kondisi Happy Hypoxia.

Menurut laporan Medical News Today, penderita Covid-19 dinyatakan megalami Happy Hypoxia jika dilakukan pemeriksaan fisik menggunakan oksimeter.

Selain itu, pemeriksaan yang lebih akurat lagi bisa dilakukan dengan tes fungsi paru.

Jika pasien Covid-19 mengalami kondisi ini, maka disarankan untuk melakukan beberapa pengobatan lebih lanjut.

Kendati banyak pasien Covid-19 yang dilaporkan mengalami kondisi Happy Hypoxia, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hal ini.

Seperti dilansir dari Kompas.com, Dokter spesialis paru yang juga Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, membernarkan bahwa kondisi Happy Hypoxia juga ditemukan pada pasien Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, masih menjadi tanda tanya mengapa pasien Covid-19 masih terlihan normal saat mengalami Happy Hypoxia.

"Itu masih menjadi tanda tanya para ahli-ahli di dunia. Kenapa pasien oksigennya sudah rendah, kok cenderung tampak biasa-biasa saja," kata Agus.

Meski terlihat biasa saja, pasien dengan Covid-19 yang mengalami Happy Hypoxia bisa tidak tertolong jika tidak segera ditangani.

"Jadi mungkin di awal-awal pasien itu akan kelihatan biasa-biasa saja, tapi kalau dia terjadi happy hipoksia dalam waktu lama dan tidak diberikan terapi oksigen, maka dia akan tiba-tiba terjadi, istilahnya kematian mendadak," kata Agus.